KISAH si SERAKAH dan BATU AJAIB| Dongeng Anak Terbaru

shares |

dongeng harta karun
Koin Emas
Kisahsi Serakah dan Batu Ajaib – Pada zaman dahulu kala, ada sepasang suami isteri yang hidup miskin. Mereka tinggal di sebuah desa dan bekerja serabutan. Kadang mencari kayu bakar untuk di jual, kadang menjadi buruh tani, atau di sewa oleh tetangga mereka untuk suatu pekerkjaan. Sebenarnya keluarga itu tak sendiri, karena si lelaki memiliki seorang kakak yang sangat kaya. Paling kaya di kampung itu.

Tapi kakak itu adalah orang yang sangat pelit, serakah, dan sombong. Meski saudaranya hidup susah dan kelaparan, dia tak pernah perduli. Baginya yang terpenting adalah memiliki harta melimpah dan bergelimang kemewahan. Tapi si adik sadar betul akan sifat kakaknya itu. Oleh karena itu, sesulit apapun kehidupanya.. dia tak pernah mengeluh dan meminta bantuan pada kakaknya. Karena dia tahu, pasti kakaknya akan menolak memberikan bantuan.

Pada suatu hari si suami dari keluarga miskin itu pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar sebagaimana hari-hari biasanya. Tak lupa dia membawa mantel hujan kesayanganya untuk jaga-jaga jika turun hujan. Meski hari sangat terik, mantel hujan itu tetap di bawanya. Sebuah mantel sederhana yang di rangkai dari daun ilalang kering yang di rajut dengan tali.

Sebagaimana kebiasaanya pula, dia selalu menaruh mantel hujanya di atas sebuah batu besar di dekat tempatnya mencari kayu bakar, dan dia sendiri memunguti ranting dan kayu di sekitar kawasan itu. Setelah di rasa kayu yang di dapatnya cukup, dia kemudian mengikat kayu itu dengan tali kemudian memanggulnya di bahu. Hari sudah beranjak sore, karena lelah.. si suami tersebut duduk istirahat di dekat batu yang dia gunakan untuk menaruh mantelnya.

Tapi ketika dia sedang asik bertistirahat menikmati angin sepoi-sepoi, tiba-tiba dia mendengar  suara..
“Hai anak muda.. tolong angkat mantel mu dari atas tubuh ku, aku merasa sangat kepanasan. Tipa hari kau menaruh mantel di atas ku. Kau tak tahu bagaimana rasanya panas dan lembab yang ku rasa. Ambil segera mantel mu, maka aku akan member mu hadiah..”. kata suara itu.
Tentu saja si miskin itu menjadi kaget dan ketakutan. Karena dia mendengar suara, tapi tak satupun orang dia temui di tempat itu.
“Si.. siapakah yang bicara pada ku? Apakah hantu?”. Kata si miskin tergagap.

“Hahaha.. kau ini memang pemuda yang lucu. Aku di sini, tertutup mantel hujan mu. Aku bukan hantu, aku adalah  batu yang ada di bawahnya”. Jawab batu ajaib itu.
“Dengan tubuh gemetar karena takut, si miskin mengambil mantelnya dari batu ajaib itu.
“Ma.. ma’af.. aku tak bermaksud mengusik ketenangan mu. Aku ke sini hanya untuk bekerja mencari kayu bakar..”. kata si miskin masih ketakutan.
“Sudahlah.. kau tak usah takut pada ku. Aku tak akan menyakiti mu. Aku adalah batu ajaib. Sudah ratusan tahun lamanya aku tinggal di sini. Karena kemampuan ku yang ajaib, banyak orang mencari keberadaan ku. Aku tahu kamu adalah pemuda yang rajin dan baik hati. Kamu sangat tekun, aku selalu memperhatikan mu setiap hari. Oleh karena itu, aku akan member mu hadiah seperti yang ku janjikan..”. kata batu ajaib itu.

“Hadiah? Hadiah apa?”. Tanya si miskin mulai terbiasa dan tak takut lagi.
“Besok kamu datanglah lagi ke sini dengan membawa karung yang panjangnya tiga hasta. Maka besok kau akan tahu sendiri hadiah apa yang aku berikan”. Kata batu ajaib itu.
Si miskin itu hanya mampu menuruti kemauan batu ajaib. Dia ingin menolak tawaran itu, tapi takut jika penolakanya akan membuat batu itu marah. Ahirnya, si miskin itupun pulang ke rumahnya. Lalu pada keesokan harinya dia kembali ke tempat itu dengan membawa karung yang panjangnya tiga hasta.

“Bukalah mulut karung mu lebar-lebar, lalu dekatkan kea rah ku”. Kata batu ajaib itu.
Si miskin pun menurutinya. Tak di sangka, batu itu kemudian membuka seperti sebuah mulut. Dan dari mulut batu itu keluar banyak sekali uang emas yang hamper memenuhi isi karung itu.
“Apakah ini sudah cukup bagi mu?”. Tanya batu ajaib.
“Wah.. sepertinya ini lebih dari cukup. Apa pemberian mu ini tak terlalu banyak?”. Kata si miskin dengan polosnya.
“Hahaha.. kau ini memang pemuda yang baik. Kebanyakan orang akan bilang jika apa yang ku berikan sekarang masih kurang”. Kata batu ajaib itu.
“Sudah.. sudah.. terimakasih batu ajaib, ini sudah lebih dari cukup untuk ku’. Kata si miskin kemudian berpamitan untuk pulang.

Setelah kejadian itu, si adik yang miskin itu kini berubah menjadi kaya raya. Memiliki rumah yang cukup megah dan harta yang melimpah. Tapi semua itu ternyata tak membuatnya berubah. Dia tetap rendah hati dan baik hati pada sesama. Melihat adiknya yang tiba-tiba kaya mendadak, si kakak yang pelit dan serakah pun menjadi penasaran. Dia lalu mengunjungi adiknya itu dan bertanya bagaimana dia mendapatkan harta sebanyak itu. Dengan lugunya si adik pun menjelaskan dari mana dia mendapat harta itu pada kakaknya.

Setelah mendapat informasi dari adiknya, paginya si kakak pergi ke hutan. Dia pura-pura mencari kayu bakar, dan tak lupa dia juga membawa mantel hujan seperti yang di lakukan adiknya. Dia pun melakukan hal yang sama seperti adiknya, tapi bedanya dia memiliki niat licik yang terselubung. Sebentar-sebentar dia mendekati batu itu sambil berkata.. “Wah.. udaranya begitu panas.. aku jadi merasa kepanasan”. Katanya. Berulang kali dia mengulangi hal serupa, tapi batu itu tetap diam tak ada respon sama sekali.

Lama-lama si kakak yang serakah itu menjadi jengkel.. “Aku akan memaksa mu untuk bicara”. Kata si kakak serakah dalam hati.
Dia lalu mengumpulkan beberapa batu kecil dan menumpuknya di atas batu ajaib itu. “Wah.. apa masih kurang panasdan kurang berat. Ayo bicara..!! kalau tidak, akan ku carikan batu yang lebih besar”. Katanya mengancam.
Ahirnya karena tak tahan, batu ajaib itupun bicara..
“Baiklah.. baiklah.. singkirkan semua batu dan mantel hujan mu dari atas tubuh ku, maka aku akan member mu hadiah. Besok, datanglah kamu ke sini dengan membawa karung yang panjangnya tiga hasta’’. Kata  batu ajaib.

Mendengar jawaban dari batu ajaib itu, si kakak yang serakah itupun menjadi sangat senang. Dia lalu menyingkirkan semua batu dan mentel hujanya lalu pulang ke rumahnya. Pada keesokan harinya, dia kembali lagi ke tempat itu dengan membawa karung yang panjangnya tiga hasta. Sebagaimana adiknya dulu, karungnya pun di isi dengan banyak koin emas oleh batu ajaib itu, bahkan hamper penuh.
“Apakah sudah cukup?” Tanya batu ajaib.
“Belum.. masih kurang, ayo tambahkan lagi..”. kata si kakak yang serakah itu.

Lalu batu ajaib itupun kembali mengeluarkan koin emas. Bahkan hingga karunng itu penuh..
“Apakah sudah cukup sekarang?”. Tanya batu ajaib.
“Masih belum.. ayo tambah lagi”. Jawab si kakak serakah.
Batu ajib pun kemudian kembali mengeluarkan koin emas dari mulutnya, kali ini sampai karung itu sudah sangat penuh dan hamper robek..
“Apakah sekarang sudah cukup?”. Tanya batu ajaib lagi.
“Masih belum.. ayo tambahkan lagi..”. kata si serakah itu.

“aku sudah tak memiliki koin emas lagi. Semua sudah habis.. “. Jawab batu ajaib.
“Ah.. tidak mungkin..!! kau pasti bohong. Aku akan mengambilnya sendiri..”. kata si kakak serakah sambil memasukan tanganya ke mulut batu ajaib.
Tapi ketika tanganya masuk ke dalam mulut batu ajaib, mulut batu itu tertutup dengan rapat. Sehingga tanganya terjebak tak bisa di keluarkan. Sudah berbagai daya upaya dia lakukan untuk melepaskan diri, tapi dia tetap tak mampu melepaskanya.

Ahirnya.. kakak yang serakah itupun terjebak di tempat itu. Kehujanan, kepanasan, dan tiap hari isterinya dating untuk mengantar makanan untuknya. Hal tersebut berjalan hingga tiga tahun. Semua hartanya habis, karena tiap hari di gunakan untuk menghidupi dirinya dan keluarganya tanpa ada kepala keluarga yang bekerja.  
“Pak.. kita sudah tak memiliki apa-apa lagi untuk di jual. Aku tak tahu sampai kapan persediaan makanan kita cukup”. Kata isterinya pada suatu hari.
Mendengar perkataan isterinya.. si suami menjadi sangat sedih. Dia merasa kasihan pad keluarga yang selama ini merawatnya, lebih-lebih isterinya yang sangat setia.
“Aku minta ma’af bu.. ini semua karena salah ku. Jika saja dulu aku tak terlalu serakah, pasti keadaan kita tak akan begini. Kalau begitu, lebih baik aku memotong tangan ku ini dari pada membuat mu susah terus..”. kata si suami.

Tiba-tiba ketika si suami yang serakah itu menyatakan penyesalanya, mulut batu ajaib itupun terbuka. Dan dengan segera si suami serakah yang telah sadar itu menarik tanganya. Kemudioan dia dan isterinya lari meninggalkan tempat itu tanpa berani kembali lagi. Hikmah dari kisah ini tentu sudah dapat kita fahami. Bahwa keserakahan adalah sifat yang dapat merugikan diri sendiri di kemudian hari. Dan penyesalan selalu datang terlambat..

THE END

Story By: Muhammad Rifai

Related Posts

0 komentar:

Posting Komentar